Sebagaimana judul di atas, super trap berarti jebakan yang luar biasa. Menjadi seorang dosen tetap pun adalah sebuah jebakan yang luar biasa bagi saya. Pasalnya begini:
Menurut saya, saya adalah introvert yang susah sekali membawa diri dalam keramaian. I just do not like being in the middle of a crowd. Jadi saya lebih membayangkan diri saya sedari dulu sebagai seseorang yang bekerja dengan data, komputer, laporan, dan benda mati lainnya daripada bekerja dengan manusia dengan berbagai macam keadaan psikologis.
Saya tidak suka drama-drama tidak penting apalagi ketika saya harus menjadi seorang teladan (dosen) untuk mahasiswa. Jiwa saya bebas, tidak bisa berpura-pura baik, bahagia, dan harus selalu tersenyum melayani.
Menjadi dosen juga bukan hanya soal mengajar saja, menurut saya ketika menjadi pengajar, maka ada tanggung jawab moral yang harus kita lakukan, tidak saja mengajarkan ilmu, tapi mendidik agar orang menjadi lebih baik.
Menjadi dosen juga bukan saja soal pendidikan, adalah penelitian dan pengabdian yang harus dilakukan. Menulis ilmiah bukanlah sesuatu yang saya sukai. Saya harus membaca, meringkas, mengutip, menulis, dan mempublikasi. Belum lagi mengikuti kaidah penulisan ilmiah yang baik dan benar. Sungguh bukan gaya seorang penulis blogger seperti saya.
Ditambah lagi pengabdian, kalau mau mengabdi ya mengabdi saja, tidak harus mengurus administrasi yang kadang kepengurusannya lebih ribet daripada kegiatan pengabdian itu sendiri.
Lalu, di sinilah saya sekarang. Seorang dosen tetap yang masih mencoba berdamai dengan semua keadaan yang saya prediksi akan terjadi, dan memang terjadi, bahkan lebih parah.
Saya hanya memprediksikan bahwa masalah-masalah yang saya hadapi adalah masalah dengan diri sendiri saja. Masalah yang sebenarnya akan selesai jika saya bisa pelan-pelan mencoba mencintai pekerjaan saya, and I do try...
Namun ternyata, dalam masa saya mencoba menumbuhkan rasa cinta itu, saya malah dihadapkan dengan masalah drama lainnya di lingkungan kerja. Saya tidak menyangka orang-orang akan seaneh itu. Bahkan saya tidak habis pikir dengan sikap-sikap kenakan-kanakan yang muncul dari orang yang sudah menempuh pendidikan tinggi tingkat lanjut. Gosip dimana-mana, fitnah yang keji, bahkan sikap-sikap lain yang nyata-nyata menjatuhkan. And I am so drained with all those dramas.
Saya bukan orang yang peduli dengan hal yang demikian, tapi saya juga bukan orang yang bisa bertoleransi dengan keadaan demikian. Saya merasa dikerdilkan di lingkungan begitu.
Dan sekali lagi saya terjebak di sini, bahkan terjebak lebih dalam karena saya sudah menjadi abdi negara.
Saya kadang berangan-angan seandainya ini, seandainya itu. Tetapi saya terlalu pengecut untuk mewujudkan seandainya-seandainya itu. Akhirnya saya mencoba berdamai dengan keadaan karena memang ada hal-hal yang menjadi pertimbangan berat bagi saya jika saya menjalankan seandainya tadi.
Saya harus memutar otak untuk kemudian berusaha menerima dan belajar untuk lebih cuek lagi. Berusaha menemukan kebahagiaan lain yang juga harus sepenuh hati saya perjuangkan.
Ah, entahlah.
Bagi kalian yang mungkin merasakan hal yang sama, saya ingin berbagi beberapa hal yang membuat saya tenang:
1. Ingat lagi kenapa saya akhirnya berada di jalan ini, niat saya.
2. Ingat bahwa Allah tidak akan menguji saya di luar kemampuan saya, jadi saya pasti mampu, hanya harus mau.
3. Soal drama, terkadang memang sebuah pohon besar itu anginnya lebih badai daripada pohon kecil. Sabar tidak ada batasnya, dan dengan sabar, sebuah biji berhasil berkembang menjadi pohon besar yang kuat. :)
Menurut saya, saya adalah introvert yang susah sekali membawa diri dalam keramaian. I just do not like being in the middle of a crowd. Jadi saya lebih membayangkan diri saya sedari dulu sebagai seseorang yang bekerja dengan data, komputer, laporan, dan benda mati lainnya daripada bekerja dengan manusia dengan berbagai macam keadaan psikologis.
Saya tidak suka drama-drama tidak penting apalagi ketika saya harus menjadi seorang teladan (dosen) untuk mahasiswa. Jiwa saya bebas, tidak bisa berpura-pura baik, bahagia, dan harus selalu tersenyum melayani.
Menjadi dosen juga bukan hanya soal mengajar saja, menurut saya ketika menjadi pengajar, maka ada tanggung jawab moral yang harus kita lakukan, tidak saja mengajarkan ilmu, tapi mendidik agar orang menjadi lebih baik.
Menjadi dosen juga bukan saja soal pendidikan, adalah penelitian dan pengabdian yang harus dilakukan. Menulis ilmiah bukanlah sesuatu yang saya sukai. Saya harus membaca, meringkas, mengutip, menulis, dan mempublikasi. Belum lagi mengikuti kaidah penulisan ilmiah yang baik dan benar. Sungguh bukan gaya seorang penulis blogger seperti saya.
Ditambah lagi pengabdian, kalau mau mengabdi ya mengabdi saja, tidak harus mengurus administrasi yang kadang kepengurusannya lebih ribet daripada kegiatan pengabdian itu sendiri.
Lalu, di sinilah saya sekarang. Seorang dosen tetap yang masih mencoba berdamai dengan semua keadaan yang saya prediksi akan terjadi, dan memang terjadi, bahkan lebih parah.
Saya hanya memprediksikan bahwa masalah-masalah yang saya hadapi adalah masalah dengan diri sendiri saja. Masalah yang sebenarnya akan selesai jika saya bisa pelan-pelan mencoba mencintai pekerjaan saya, and I do try...
Namun ternyata, dalam masa saya mencoba menumbuhkan rasa cinta itu, saya malah dihadapkan dengan masalah drama lainnya di lingkungan kerja. Saya tidak menyangka orang-orang akan seaneh itu. Bahkan saya tidak habis pikir dengan sikap-sikap kenakan-kanakan yang muncul dari orang yang sudah menempuh pendidikan tinggi tingkat lanjut. Gosip dimana-mana, fitnah yang keji, bahkan sikap-sikap lain yang nyata-nyata menjatuhkan. And I am so drained with all those dramas.
Saya bukan orang yang peduli dengan hal yang demikian, tapi saya juga bukan orang yang bisa bertoleransi dengan keadaan demikian. Saya merasa dikerdilkan di lingkungan begitu.
Dan sekali lagi saya terjebak di sini, bahkan terjebak lebih dalam karena saya sudah menjadi abdi negara.
Saya kadang berangan-angan seandainya ini, seandainya itu. Tetapi saya terlalu pengecut untuk mewujudkan seandainya-seandainya itu. Akhirnya saya mencoba berdamai dengan keadaan karena memang ada hal-hal yang menjadi pertimbangan berat bagi saya jika saya menjalankan seandainya tadi.
Saya harus memutar otak untuk kemudian berusaha menerima dan belajar untuk lebih cuek lagi. Berusaha menemukan kebahagiaan lain yang juga harus sepenuh hati saya perjuangkan.
Ah, entahlah.
Bagi kalian yang mungkin merasakan hal yang sama, saya ingin berbagi beberapa hal yang membuat saya tenang:
1. Ingat lagi kenapa saya akhirnya berada di jalan ini, niat saya.
2. Ingat bahwa Allah tidak akan menguji saya di luar kemampuan saya, jadi saya pasti mampu, hanya harus mau.
3. Soal drama, terkadang memang sebuah pohon besar itu anginnya lebih badai daripada pohon kecil. Sabar tidak ada batasnya, dan dengan sabar, sebuah biji berhasil berkembang menjadi pohon besar yang kuat. :)
Comments
Post a Comment